
Peri Mimpi
Ketika kita berhenti percaya pada keajaiban; peri-peri berhenti terbang menerangi mimpi, bulan berhenti bercakap pada awan, cahaya pagi berhenti merambat melunturkan warna langit malam, dan kita pun berhenti melukis mimpi-mimpi indah.
Seiring kedewasaan, manusia berhenti untuk berkhayal, mereka mulai lebih menambatkan diri pada rasio dan melupakan keriangan masa kanak mereka. Mereka mulai menemukan lebih banyak hal untuk membuat mereka sedih. Dan lebih banyak hal lagi untuk dijadikan pertentangan.
Anak-anak tidak melakukannya. Ketimbang menangisi dunia atau memulai perang, anak-anak lebih memilih untuk menemukan keajaiban pada setiap hal yang mereka temui. Pada kepik di daun, pada sarang laba-laba yang lengket, pada warnawarni pelangi, pada butir hujan, pada titik bintangbintang di langit malam, dan hampir pada semua hal lainnya. Entah di mana, entah kapan, kita mulai berhenti untuk kagum pada keajaiban-keajaiban itu.
Tapi hari ini, aku ingin berhenti sejenak dari menjadi dewasa. Aku ingin kembali bermain-main dengan hidup ini. Dan kembali percaya. Bahwa keajaiban itu masih dan selalu ada di sekelilingku.
